Featured Post

Perkembangan Penglihatan Bayi Usia 7-12 Bulan

Medianers ~ Perkembangan penglihatan bayi pada usia 7 - 12 bulan cukup luar biasa. Penglihatan bayi Anda hampir sepenuhnya berkembang. Bahk...

Sosok Ayah Nan Hebat itu Bernama Ismael,

Sosok Ayah Nan Hebat  itu Bernama Ismael

Semasa hidup, ditengah keterbatasan ekonomi serta mengalami sakit-sakitan, batuk kronis dan sesak nafas membuat seorang Ayah, bernama Ismael,(Almarhum) terkapar di bangsal perawatan rumah sakit di Kota Padang.

Dirumah sakit, Dia merenung nasib dan berusaha mencari ide untuk membuka usaha baru, karena usaha lama sebagai pedagang kain 'kaki lima' tidak lagi memberi harapan ekonomi untuk membangun kesejahteraan keluarga.

Sebelum dirawat, Ismael hampir tiap bulan berobat ke Padang dengan keluhan yang sama, yaitu batuk, dan sesak nafas, terkadang kerongkongan terasa sempit apabila terkena debu atau asap.
Berangkat dari persoalan tersebut, terlintas dipikirannya, bahwa membuka usaha dibidang farmasi dan pengobatan merupakan peluang yang sangat bagus, karena dibutuhkan masyarakat.

Contohnya, seperti Dia yang selalu mencari dokter ketika sakit, dan dengan cara apapun tidak berpikir panjang soal harga dan biaya, yang utama berobat dulu, meski menggadaikan harta benda yang ada.

Namun, Ismael bingung bagaimana cara memulai usaha dagang tentang pengobatan tersebut, karena Dia bukan dokter, juga tidak memiliki latar belakang pendidikan sebagai Apoteker atau tenaga kesehatan.

Dan, lebih parahnya Ismael tidak menamatkan Sekolah Dasar (SD), juga tidak punya modal finansial untuk mendanai, tapi beliau memiliki keinginan kuat untuk membuka usaha dibidang farmasi, namun belum tau caranya dan dari mana dimulai.

Belajar Otodidak Mengenai Penyakit dan Obat-Obatan Selama dirawat dirumah sakit, dan setelah dibolehkan pulang oleh dokter, Ismael tetap bolak- balik ke rumah sakit tersebut.
Tujuannya untuk belajar dan mencatat serta memperhatikan apa yang dilakukan dokter dan Perawat di bangsal perawatan, maupun di poliklinik. Seperti saran dan pengobatan apa yang diberikan pada pasien.

Setelah itu, Ismael juga berpura-pura sebagai keluarga pasien, serta menanyakan kepada dokter tentang pengobatan apa yang diberikan untuk keluarganya yang sedang dirawat dibangsal tersebut.
Lalu dokter menjelaskan, dan dicatat oleh Ismael terkait saran dan pengobatan yang akan dan telah diberikan dokter.

Aktifitas demikian dilakukan Ismael tanpa menimbulkan kecurigaan dari dokter maupun pasien dan petugas rumah sakit.

Hingga akhirnya, Ismael mendapat sedikit pengalaman dan ilmu pengetahun tentang tanda dan gejala penyakit serta pengobatannya.

Awal Mula Dikenal Sebagai Penjual Obat Masa itu, sekitar tahun 1970-an Ismael mewujudkan niatnya menjadi pedagang farmasi, berbekal dari sedikit pengalaman saat berobat, dan informasi dari pasien maupun dari dokter dan Perawat di rumah sakit.

Diceritakannya pada penulis, "Saya nekat saja untuk mulai membuka usaha sebagai penjual obat. Saya mulai jualan kaki lima dan keliling dari warung ke warung," ungkapnya.

Pertama kali membuka usaha, Ismael menumpang jualan di depan sebuah toko di pasar kecamatan, dengan mendirikan sebuah meja yang dikenal dengan pedagang kaki lima. Selain itu, Ismael juga membawa obat- obatan dalam tas untuk dipromosikan di warung-warung kopi.

Kendati telah memulai usaha sebagai penjual obat amatiran, Ismael mendapat tanggapan remeh dan cemooh oleh kawan-kawannya pedagang kain. Bahkan ada yang menilainya telah 'sinting.'

Pengakuan Ismael semasa hidup pada penulis, "Saya tetap tabah dan berdoa, sebab saya yakin usaha ini akan membawa berkah, selain bisa membantu orang sakit, juga bisa mendapatkan amal dan tentunya meningkatkan kesejahteraan keluarga," katanya.

Berangkat dari keyakinan tersebut, tiba- tiba saja seorang ibu-ibu mendekati meja obat Ismael untuk mendapatkan obat. Ibu tersebut mengalami sesak beraktifitas dan kakinya bengkak (oedema) oleh cairan tubuh yang tertahan.

Berbekal dari pengalaman dirumah sakit, Ismael mengetahui bahwa ibu itu mengalami penyakit gagal jantung, yang ditandai adanya cairan bengkak dan sesak saat beraktifitas, dan Ismael memberikan obat bermerek Lasix kepada ibu tersebut.

Lasix adalah obat yang digunakan untuk mengobati penumpukan cairan karena gagal jantung. Apabila dikonsumsi cairan akan keluar secara luar biasa melalui saluran kemih.

Dikatakan Ismael, kala itu ibu- ibu yang berobat kepadanya ternyata tidak punya uang, beliau mau beli obat, tapi berutang.

Mendengar keluhan demikian Ismael akhirnya tidak memungut biaya, tapi memberi gratis sebanyak 3 tablet Lasix, dengan catatan apabila ibu itu sembuh, maka bantu promosikan kepada yang lainnya, bahwa Ismael bisa mengobati dan menyediakan obat-obatan.

Alhasil, satu hari berselang ibu itu kembali ke tempat Ismael, mengucapkan terima kasih bahwa, setelah minum obat, pipisnya keluar hampir 1 ember kecil dan sesak mulai berkurang, serta Ismael memberi saran, agar ibu itu mengurangi konsumsi garam, agar cairan tidak kembali tertahan.
Dilain waktu, Ismael kembali mendapat pasien yang mengalami batuk kering yang menyakitkan kepada tenggorokan, dan dada. Ismael memberi obat Codeine pada pasien tersebut.

Codeine sebetulnya adalah obat untuk mengobati nyeri. Namun, dalam kasus tertentu, obat tersebut sangat efektif digunakan untuk meredakan batuk, karena mampu mempengaruhi susunan syaraf pusat.
Dan, seketika batuk pasien lenyap, dan Ismael mulai mendapat nama di kecamatan tempat ia jualan. Mulai dikenal masyarakat, dan mulai menambah variasi obat-obatan yang dijual bebas, seperti bodrex, paramek, dan Inza.

Pada waktu itu, obat-obatan yang dijual Ismael tidak terlalu ketat diawasi, padahal obat tersebut tergolong obat keras yang wajib diberikan berdasarkan resep dokter. Namun, karena keterbatasan pemerintah, serta kurangnya sarana kesehatan di kecamatan, maka Ismael bebas saja menjual, dan tidak menimbulkan masalah.

Berselang beberapa tahun kemudian, usaha Ismael mulai berkembang, meja tempat Dia jualan bergeser ke belakang, sebab toko tempat Dia menumpang, telah dibeli lunas.
Mendirikan Toko Obat Berizin dan Apotek Serta Melahirkan Beberapa Cabang Berjalannya waktu, pengawasan dari pemerintah kabupaten Padang Pariaman berjalan sebagaimana mestinya, toko obat yang dikelola Ismael pun mendapatkan izin resmi, dan hingga saat ini, (2018) masih eksis.

Perkembangan usaha cukup signifikan, hingga telah regenerasi dan bercabang menjadi Apotek di beberapa kota dan kabupaten di Sumatera Barat yang dikelola oleh anak-anak dan keluarga besarnya, seperti ada di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan dan Kota Payakumbuh. Bahkan, ada juga di pulau Jawa.

Selain mengelola Toko Obat dan Apotek di beberapa daerah, anak- anak Ismael juga melanjutkan harapan sang Ayah menjadi tenaga kesehatan, ada saat ini yang menjabat sebagai kepala Puskesmas dan ada pula bekerja di rumah sakit sebagai tenaga kesehatan.

Abak Tutup Usia Akhir hayat, diusia 79 tahun, tepatnya pada tanggal 9 September 2012, Ismael kelahiran tahun 1933 menutup usia, meninggalkan 2 orang istri dan 14 orang anak dan puluhan cucu.
Kami, anak-anaknya memanggil dengan sebutan Abak (Ismael). Dimata keluarga, beliau sosok yang hebat, telah merintis usaha dibidang kesehatan mulai dari 'nol' hingga berkembang dan terjadi regenerasi.

Bertepatan hari ini, Senin 12 November 2018, penulis sangat pantas mengenang jasa dan perjuangan Abak sebagai tulang punggung keluarga.

Dan bersyukur telah memilikinya, yang telah diingatkan di hari ini, sebagi "Hari Ayah" juga bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional. Semoga Abak tenang di sorga sana. Akhirnya, penulis ucapkan, "Selamat Hari Ayah dan Hari Kesehatan Nasional."(Anton Wijaya)